Dua Raksasa Industri Gabung Gerakan Vokasi, Kesiapan Kerja Siswa SMK Didorong Meningkat

By Admin


Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI)
nusakini.com, Jakarta — Upaya penguatan kompetensi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) bidang pemasaran di Indonesia kembali mendapat dorongan baru yang signifikan. Asosiasi Komunitas Profesi Sales Indonesia (KOMISI) secara resmi menggandeng dua perusahaan multinasional, PT Deli Group Indonesia dan PT Tatalogam Lestari, untuk memperluas jangkauan serta dampak program pembinaan vokasi nasional.

Langkah taktis ini dipastikan menjadi bagian dari pelaksanaan jilid kedua program bertajuk Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas. Agenda strategis tersebut pada awalnya diinisiasi oleh Direktorat SMK sebagai upaya konkret untuk memperkuat kompetensi siswa SMK Pemasaran agar semakin siap menghadapi kebutuhan nyata di dunia usaha dan dunia industri saat ini.

Guna mematangkan kolaborasi tersebut, pengurus pusat KOMISI melakukan kunjungan kerja langsung ke jajaran manajemen kedua korporasi besar tersebut pada Jumat, 26 Juni 2026. Pertemuan strategis ini dipimpin langsung oleh jajaran teras asosiasi, yaitu Founder KOMISI Dedy Budiman, Ketua Umum KOMISI Indra Hadiwidjaja, serta Sekretaris Jenderal KOMISI Ahmad Madani. Hadir pula perwakilan dari Asosiasi Guru Marketing Indonesia (AGMARI), Pebrizayanti, yang bertindak sebagai mitra strategis dalam pengembangan kompetensi para tenaga pendidik di bidang pemasaran.

Ekosistem pendidikan kejuruan dinilai tidak dapat berdiri sendiri tanpa adanya intervensi dari para pelaku industri aktif. Founder KOMISI, Dedy Budiman, menyatakan bahwa pembentukan tenaga pemasaran yang profesional dan andal sudah sepatutnya diintervensi sejak para siswa masih duduk di bangku sekolah. Menurutnya, organisasi profesi memiliki tanggung jawab moral untuk menyelaraskan kurikulum kelas dengan kenyataan di lapangan kerja.

"KOMISI percaya bahwa mencetak tenaga sales yang profesional harus dimulai sejak bangku sekolah. Organisasi profesi memiliki tanggung jawab untuk menjembatani kebutuhan industri dengan proses pembelajaran di SMK. Karena itu, kami mendukung penuh Gerakan 1000 Siswa SMK Sales Naik Kelas dan terus memperluas kolaborasi dengan dunia usaha agar manfaatnya semakin besar," ujar Dedy Budiman saat memberikan keterangan mengenai latar belakang perluasan program kerja sama tersebut.

Dedy mengimbuhkan bahwa kolaborasi yang dibangun secara berkelanjutan seperti ini akan memberikan kesempatan emas kepada para siswa untuk mengenal standar profesional yang berlaku di dunia kerja. Pada saat yang sama, program ini juga diyakini dapat mendongkrak kesiapan mental dan keterampilan teknis mereka sebelum benar-benar memasuki industri.


Kerja sama pada gelombang kedua ini dirancang untuk melampaui metode belajar konvensional. Melalui rangkaian kunjungan tersebut, KOMISI bersama mitra industri akan membangun sinergi yang berfokus pada penyusunan materi pembelajaran secara bersama-sama, penguatan kompetensi pemasaran yang spesifik, serta pengenalan budaya kerja korporasi langsung kepada siswa.

Sementara itu, Ketua Umum KOMISI, Indra Hadiwidjaja, menekankan bahwa konsep penyelarasan (link and match) antara dunia pendidikan dan dunia industri tidak boleh berhenti di atas kertas, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan. Ia memandang ruang kolaborasi yang dibuka oleh pihak swasta merupakan kunci utama agar pengalaman belajar siswa bernilai guna tinggi.

"Sekolah tidak bisa berjalan sendiri, begitu pula industri. Ketika dunia usaha membuka ruang kolaborasi, siswa memperoleh pengalaman belajar yang jauh lebih bermakna. Kami berharap semakin banyak perusahaan yang ikut mengambil bagian dalam membangun talenta vokasi Indonesia," tegas Indra Hadiwidjaja.

Indra juga menambahkan bahwa organisasi profesi memegang peran sentral sebagai penghubung struktural. Dengan demikian, hubungan kerja sama yang terbangun antara dunia pendidikan dan sektor industri tidak akan bersifat seremonial belaka, melainkan menjadi sebuah kemitraan jangka panjang yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal KOMISI, Ahmad Madani, memaparkan secara lebih rinci mengenai fokus teknis pelaksanaan program gelombang kedua ini. Menurutnya, materi pengajaran ke depan akan jauh lebih menitikberatkan pada pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning). Metode ini diterapkan agar siswa dapat memahami secara langsung bagaimana dinamika dunia peniagaan berkembang di berbagai sektor industri saat ini.

"Profesi sales saat ini membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan menjual. Dunia industri membutuhkan talenta yang mampu memahami pelanggan, menguasai komunikasi, berpikir adaptif, memanfaatkan teknologi, serta membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen. Melalui kolaborasi dengan PT Deli Group Indonesia dan PT Tatalogam Lestari, kami ingin menghadirkan pengalaman belajar yang lebih relevan dengan kebutuhan industri masa kini," pungkas Ahmad Madani.

Ahmad meyakini bahwa keterlibatan aktif pihak perusahaan sejak proses pembelajaran awal di sekolah merupakan bentuk investasi jangka panjang yang sangat berharga. Sinergi ini diharapkan menjadi model percontohan nasional yang mampu melahirkan generasi pemasar muda Indonesia yang tidak hanya kompeten dan berkarakter, melainkan juga adaptif terhadap perubahan global. (*)